Kamis, 22 Mei 2014

anak berkebutuhan khusus

Anak Berkebutuhan Khusus
Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB-A untuk tunanetra, SLB-B untuk tunarungu, SLB-C untuk tunagrahita, SLB-D untuk tunadaksa, SLB-E untuk tunalaras dan SLB-G untuk cacat ganda.
Anak berkebutuhan khusus yang paling banyak mendapat perhatian guru menurut Kauffman dan Hallahan antara lain sebagai berikut : 
·      Anak tunanetra 
·      Anak tunarunguwicara 
·      Tunagrahita (mental retardation)
·      Anak berkesulitan belajar (learning disabilities) 
·      Hyperactive
·      Anak tunalaras
·      Anak autistic
·      Anak tunadaksa (physical disability)
·      Anak tunaganda (multiple handicapped)
·      Anak berbakat (gifted and special talents)
SLB-A (Tuna Netra)
Tunanetra adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya. Berdasarkan tingkat gangguannya Tunanetra dibagi dua yaitu buta total (total blind) dan yang masih mempunyai sisa penglihatan (Low Visioan). Alat bantu untuk mobilitasnya bagi tuna netra dengan menggunakan tongkat khusus, yaitu berwarna putih dengan ada garis merah horizontal. Akibat hilang/berkurangnya fungsi indra penglihatannya maka tunanetra berusaha memaksimalkan fungsi indra-indra yang lainnya seperti, perabaan, penciuman, pendengaran, dan lain sebagainya sehingga tidak sedikit penyandang tunanetra yang memiliki kemampuan luar biasa misalnya di bidang musik atau ilmu pengetahuan.
A.  Metode Pengajaran
1.      Metode Ceramah
Metode ini dapat diterapkan kepada siswa tunanetra karena dalam pelaksanaan metode ini guru menyampaikan materi pelajaran dengan penjelasan lisan dan siswa mendengar penyampaian materi dari guru.
2.      Metode Tanya Jawab
Metode ini dapat diterapkan kepada siswa tunanetra karena metode ini merupakan tambahan dari metode ceramah yang menggunakan indera pendengaran.
3.      Metode Diskusi
Metode ini dapat diterapkan kepada siswa tunanetra karena mereka dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan diskusi itu karena dalam metode diskusi kemampuan daya pikir siswa untuk memecahkan suatu persoalan lebih diutamakan. Dan metode ini bisa diikuti tanpa menggunakan indera penglihatan.
B.   Fasilitas
Alat bantu menulis huruf Braille (Reglette, Pen dan mesin ketik Braille); alat bantu membaca huruf Braille (Papan huruf dan Optacon); alat bantu berhitung (Cubaritma, Abacus/Sempoa, Speech Calculator), serta alat bantu yang bersifat audio seperti tape-recorder. Guru yang mengajar di sekolah tersebut juga merupakan guru yang telah diberikan pelatihan khusus untuk menangani anak tunanetra.
C.   Mekanisme Pengajaran
Waktu belajar yang diterapkan dalam 1 mata pelajaran adalah 40 menit dan waktu istirahat selama 15 menit.
D.   Tujuan Pembelajaran
·         Menjadikan murid lebih terampil dalam membuat sesuatu.
·         Menjadikan murid lebih mandiri dalam menghadapi suatu permasalahan.
·         Diharapkan murid lebih dapat bersosialisasi terhadap lingkungan di sekitarnya.
E.   Manajemen Kelas
Gaya penataan kelas yang digunakan dalam sekolah ini adalah gaya seminar atau bentuk U karena guru dapat duduk di tengah-tengah murid dan dapat berinteraksi langsung dengan murid dengan cara duduk berhadapan dengan murid. Gaya manajemen kelas yang diterapkan adalah gaya manajemen kelas otoritatif karena gurulah yang mengontrol langsung materi yang diberikan dalam kegiatan belajar mengajar dan perilaku murid.
SLB-B (Tuna Rungu)
Tuna rungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah:
1.     Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB),
2.     Gangguan pendengaran ringan(41-55dB),
3.     Gangguan pendengaran sedang(56-70dB),
4.     Gangguan pendengaran berat(71-90dB),
5.     Gangguan pendengaran ekstrem/tuli(di atas 91dB).
Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tuna rungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.
A.   Metode Pengajaran
Metode pengajaran yang paling tepat untuk digunakan di sekolah SLB B adalah TCL (teacher centered learning). Dan memilih menggunakan metode ini karena anak-anak yang memiliki kekurangan mental apabila kita membiarkan dan menyuruhnya belajar secara mandiri maka yang terjadi adalah anak tersebut akan bermain-main dengan temannya. Dengan pembelajaran yang berpusat pada guru maka murid yang memiliki kekurangan tadi dapat di bimbing oleh guru dalam melaksanankan pembelajaran di kelas. Selanjutnya guru tinggal fokus pada perilaku murid, mengarahkan para murid. Yang dimaksud dengan mengarahkan adalah memberi reward kepada anak yang melakukan suatu kebaikan dan memberikan punishment kepada murid ketika dia melakukan sesuatu yang buruk.
B.   Fasilitas
Fasilitas yang sesuai dengan permediknas tahun 2008 tentang sarana dan pra sarana SLB yang berkategori SLB-B yaitu:
1.      Ruang bina komunikasi dan persepsi bunyi dan irama
2.      Ruang bina persepsi bunyi dan bicara
3.      Ruang keterampilan
Dan beberapa fasilitas tambahan yang disediakan adalah:
1.      Ruang kelas
2.      Gedung sekolah yang dapat digunakan sebagai pusat pembelajaran
Selain itu saya juga akan menyediakan alat bantu yang daoat digunakan anak tuna rungu, seperti:
1.      Audiometer          : Alat ini untuk mengukur taraf kehilangan pendengaran seseorang
2.      Hearing Aids        : Alat ini diguakan anak tuna rungu untuk medengar,baik secara
  individu maupun kelompok
3.      Tape Recorder      : Mengontrol hasil ucapan yang direkam
4.      Spatel                   : Alat bantu untuk membetulkan posisi bicara
5.      Audio Visual        : Audio visual seperti film, video, televisi
6.      Cermin                 : Digunakan sebagai alat bantu dalam mengucapkan sesuatu
  dengan artikulasi yag baik.
C.   Mekanisme Pembelajaran
Pada dasarnya pendidikan anak tuna rungu dibagi dua yaitu:
1.      Segregrasi
2.      Integrasi
D.   Tujuan Pembelajaran
Tujuan dari pembelajaran di sekolah saya adalah:
1.      Membantu anak tuna rungu dalam mengembangkan kemampuan mereka
2.      Membantu tuna rungu agar tidak tertinggal
3.      Memberi mereka kesempatan dalam berkarya
4.      Membantu memulihkan pendengaran mereka menggunakan fasilitas yang ada
5.      Memberi tahu mereka bahwa mereka tidak sendiri dan mereka memiliki teman
6.      Mengajarkan mereka tentang kehidupan
7.      Memberi mereka pengetahuan yang dapat digunakan untuk masa depan mereka
8.      Memotivasi mereka agar selalu bersemangat dalam menjalani hidup
E.   Manajemen Kelas
Manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan pembelajaran murid (Charles,2002;Everstone, Emmer, & Worsham, 2003). Jadi saya akan menggunakan manajemen kelas yang se efektif mungkin, mungin dengan cara memperkejakan seorang guru yang membimbing dan menata kegiatan kelas bukan guru yang hanya menekankan pada disiplin. Dan untuk selanjutnya saya akan mendesain lingkungan fisik kelas. Ada beberapa hal yang akan saya perhatikan dalam mendesain lingkingan fisik kelas, yaitu:
1.      Mengurangi kepadatan di tempat lalu lalang
2.      Memastikan guru dapat mlihat semua murid
3.      Materi pengajaran dan pembelajaran murid mudah di akses
4.      Murid harus bisa melihat guru yang menjelaskan pelajaran di depan kelas
Dan gaya penataan kelas yang saya gunakan di dalam kelas adalah gaya auditorium. Saya  memilih gaya ini karena penataan ini membatasi kontak murid tatap muka dan guru bebas bergerak kemana saja. Ini akan membantu guru dalam mengawasi  seluru kelas. Dan untuk selanjutnya saya akan berusaha menciptakan lingkungan yang positif untuk pembelajaran. Caranya adalah saya akan menjelaskan beberapa hal kepada murid sebelum pelajaran di mulai, yaitu:
1.      Mengajarkan aturan dan prosedur
2.      Menjalin hubungan yang positif dengan murid
3.      Mengajak murid untuk berbagi dan mengemban tanggung jawab
4.      Memberi hadiah pada perilaku yang tepat
SLB-C (Tuna Graghita)
Tunagrahita adalah individu yang memiliki intelegensi yang signifikan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku yang muncul dalam masa perkembangan. klasifikasi tunagrahita berdasarkan pada tingkatan IQ.
1.     Tunagrahita ringan (IQ : 51-70),
2.     Tunagrahita sedang (IQ : 36-51),
3.     Tunagrahita berat (IQ : 20-35),
4.     Tunagrahita sangat berat (IQ dibawah 20).
Pembelajaran bagi individu tunagrahita lebih di titik beratkan pada kemampuan bina diri dan sosialisasi.
A.    Metode Pengajaran
Untuk anak SLB-C atau mampu didik metode pengajaran yang dapat digunakan adalah metode ceramah oleh guru seperti pada tingkat Sekolah Dasar lainnya. Dalam hal ini guru menerangkan materi yang diajarkan. Setelah itu guru dapat melakukan tanya jawab dengan murid sehingga murid lebih mampu untuk mengerti apa yang diajarkan. Guru juga bisa menggunakan alat peraga untuk beberapa pelajaran agar anak lebih tertarik untuk belajar dan mampu untuk mengingat lebih baik materi pembelajarannya. Setiap minggunya juga dapat dibuat pelaporan kinerja sehingga guru dapat mengetahui perkembangan anak secara baik juga memberikan reward bagi anak yang berkembang dengan baik dan disiplin dalam kelas.
B.     Fasilitas
·         Menyediakan guru-guru yang berkualitas yang mengerti tentang Anak Berkebutuhan Khusus dan memiliki pengalaman yang baik di bidang ini.
·         Menyediakan buku-buku yang berkualitas dan sesuai bagi peserta didik pada tingkatannya masing-masing.
·         Menyediakan ruang kelas yang nyaman dan aman untuk kegiatan belajar mengajar sehingga proses belajar mengajar berlangsung dengan baik.
·         Menyediakan alat peraga yang menunjang pada kegiatan belajar mengajar.
·         Menyediakan tempat bermain dan taman yang baik dan aman untuk peserta didik.
C.    Mekanisme Pengajaran
Mekanisme pengajaran yang dapat diterapkan bisa sama dengan anak Sekolah Dasar pada umumnya. Bisa digunakan waktu 30-35 menit untuk setiap mata pelajarannya. Yaitu dengan 20 menit ceramah oleh guru dan 10 menit tanya jawab dengan siswa.
D.    Tujuan Pembelajaran
Mengembangkan kemampuan akademik peserta didik secara optimal agar dapat mandiri dalam kehidupan dan menyiapkan peserta didik agar memiliki dasar-dasar kecerdasan, pengetahuan, keperibadian, serta akhlak yang mulia. Membekali peserta didik untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih lanjut dan menyiapkan peserta didik agar dapat bersosialisasi di masyarakat.
E.     Manajemen Kelas
Gaya Penataan
Dapat digunakan gaya seminar yaitu gaya susunan kelas dimana sejumlah besar murid duduk berbentuk lingkaran, persegi, atau bentuk U. Pada gaya ini guru akan lebih mudah untuk menjangkau murid-muridnya sehingga guru lebih mudah mengetahui apa yang dilakukan murid dan mengetahui apakah murid sudah mengerti atau tidak.
Strategi Umum
Dapat digunakan gaya otoritatif yaitu melibatkan murid dalam kerja sama give and take dan menunjukkan sikap perhatian kepada mereka. Sehingga mereka mampu untuk berkerja sama dengan teman, tidak cepat puas, dan berusaha mencapai penghargaan tertinggi.
SLB-D (Tuna Daksa)
Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.
A.    Metode Pengajaran
Ceramah
Diskusi Berkelompok
Praktek (Dalam pengajaran kegiatan agar lebih mandiri dalam kegiatan sehari-hari).
B.     Fasilitas
Pengajar/Pembina, Psikolog dan Dokter khusus untuk menjamin perkembangan anak.
Gedung dan Ruang yang dikhususkan untuk keperluan anak tuna daksa.
(Contoh: Terdapat tangga yang rata tanpa anak tangga yang dikhususkan    untuk memudahkan siswa yang memakai kursi roda, atau wastafel rendah agar mereka tidak perlu dibantu berdiri untuk mencuci tangan.)
Komputer, Alat olahraga, UKS yang lengkap.
C.    Mekanisme Pembelajaran    
Pertemuan dilakukan 5 hari aktif untuk pelajaran akademis / pelatihan berkegiatan untuk mandiri dan 1 hari untuk ekstrakulikuler. Dalam sehari pertemuan diadakan 14 jam dengang istirahat 2x30 menit setiap pertemuannya. Setiap mata pelajaran berlaku 45menit/pertemuan.
Proses belajar mengajar dimulai dengan; ceramah 30 menit, berdiskusi sekelompok 60 menit, praktek (jika diperlukan).
D.    Tujuan Pembelajaran
Tujuan Umum:
Meningkatkan status kesehatan dan mengurangi tingkat ketergantungan anak penyandang cacat di SLB.
Tujuan Khusus:
1.      Meningkatnya kemampuan tenaga kesehatan di puskesmas dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan anak penyandang cacat di SLB.
2.      Memberi makna bahwa mereka dapat belajar apa yang anak normal lain  dapat pelajari (khususnya dalam hal akademis dan bakat).
E.     Manajemen Kelas
Setiap kelas berisi 7-12 anak.
Setiap kelas didampingi 2-3 pengajar (diharapkan 1 pengajar/pembina memegang 3-4 anak)
SLB-E (Tuna Laras)
Tuna laras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. individu tuna laras biasanya menunjukan prilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tuna laras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.
A.   Metode Pengajaran
Metode Pengajaran menggunakan Teacher Centered Learning (TCL) dikarenakan butuh control dari pengajar agar tidak terjadi kecelakaan akibat keterbatasan atau kekurangan pengendalian emosi.
B.   Fasilitas
Pengawas pembelajaran dimana di setiap proses belajar mengajar ada pengawas yang menjadi control kelas penjauhan dari fasilitas benda-benda yang dapat melukai. Misal: benda tajam, kursi diganti dengan karpet, psikolog yang mampu sebagai monitoring emosi atau therapy penenang, fasilitas medis untuk mengatasi hal-hal yang berkenaan dengan medis.Penggunaan slide dan infokus serta hal-hal yang tidak impulsive agar tidak mendis kombabulasikan emosi
C.   Mekanisme Pengajaran
Pengajar memberikan materi yang berkenaan dengan kognisi dan intelegensi anak-anak tuna Laras. Pengajar diberikan training oleh psikolog mengenai cara mengatasi ABK. Lalu setiap bahan pengajaran diberikan feedback kepada anak ABK seminim mungkin dan senyaman mungkin bagi mereka
D.   Tujuan Pembelajaran
Untuk membantu akademis dan kesejahteraan anak-anak ABK terutama penyandang tuna Laras agar bisa bercampur dengan masyarakat di masa depan dan terjamin masa depan yang lebih baik.
E.   Manajemen Kelas
Manajemen kelas menggunakan kelas kluster dan auditorium, disesuaikan dengan kondisi kelas. Waktu 5 hari dalam seminggu sebagai insentif kenyamanan penyandang tuna Laras. Tempat akan di pisahkan dalam kelas tertentu menurut dari kemampuan kestabilan emosi dan akademis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar